Identifikasi Keanekaragaman dan Pengetahuan Lokal Tumbuhan Obat dalam Kawasan Cagar Alam Wolo Tadho (Studi Kasus Desa Alolonggo, Kelurahan Benteng Tengah, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur)

  • Sri Manan Tandiassa Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Nusa Cendana
  • Wilhelmina Seran Program Studi Kehutanan Universitas Nusa Cendana
  • Fadlan Pramatana Program Studi Kehutanan Universitas Nusa Cendana
  • Nixon Rammang Program Studi Kehutanan Universitas Nusa Cendana
Keywords: Keanekaragaman, Tumbuhan Obat, Pengobatan Tradisional, Status Konservasi

Abstract

Tumbuhan obat adalah tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat, baik yang ditanam secara sengaja maupun yang tumbuh secara alami. Tumbuhan ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit melalui penggunaan ramuan obat tradisional. Biasanya, tumbuhan obat tradisional merupakan jenis tanaman yang telah diakui memiliki sifat penyembuhan oleh masyarakat dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan obat tradisional.
Cagar Alam Wolo Tadho adalah suatu area konservasi yang terletak di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sekitar kawasan ini, beberapa penduduk masih menerapkan pengobatan tradisional dengan memanfaatkan berbagai jenis tanaman sebagai sarana pengobatan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis tumbuhan dan bagian tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyrarakat serta mengetahui status konservasi tumbuhan obat yang ditemukan. Metode yang digunakan adalah wawancara dan jelajah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat dengan pengetahuan lokal telah mengidentifikasi 23 jenis tanaman obat yang berasal dari 15 family sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Proses pengolahan tumbuhan obat melibatkan metode seperti direbus, ditumbuk, dibakar, dikunyah, diseduh, dan digosok. Berdasarkan titik sebaran, tumbuhan obat paling banyak ditemukan pada tingkat kelerengan curam (26–45%) sebanyak 122 titik sedangkan berdasarkan tingkat ketinggiannya, tumbuhan obat paling banyak ditemukan pada ketinggian 218–302 mdpl sebanyak 105 titik. Jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat sekitar kawasan memiliki 2 kategori status konservasi dari 23 jenis spesies tumbuhan obat yaitu, Not Evaluated (NE)/ belum dievaluasi dan Least Concern (LC)/ resiko rendah.

Published
2024-01-03